Model Pembelajaran Khusus Sains
MODEL
PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS
Model pembelajaran adalah pola
mengajar yang menerangkan proses, menyebutakan dan menghasilkan situasi
lingkungan tertentu yang menyebabkan para siswa berinteraksi dengan cara
terjadinya perubahan khusus. Pada tingkah laku mereka. Penciftaan suatu situasi
lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar.
Model pembelajaran IPA menggambarkan
bagaimana pembelajaran IPA dilakukan. Dewasa ini telah dikembangkan
bermacam-macam model pembelajaran oleh para ahli. Di antara model-model
pembelajaran tersebut ada yang dirancang secara umum tetapi cocok digunakan
untuk pembelajaran IPA, namun ada yang memang dirancang khusus untuk
pembelajaran IPA. Beberapa model tersebut akan diuraikan, agar dapat dipahami
karakteristiknya masing-masing.
1.
Model Pembelajaran Langsung
Inti dari model pembelajaran
langsung adalah guru mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan tertentu,
selanjutnya melatihkan keterampilan tersebut selangkah demi selangkah kepada
siswa. Rasional teoritik yang melandasi model ini adalah teori pemodelan
tingkah laku yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, belajar
dapat dilakukan melalui pemodelan (mencontoh, meniru) perilaku dan pengalaman
orang lain.
Sintaks atau
langkah-langkah pembelajaran meliputi 5 fase, dengan peran guru pada tiap fase
dapat dilihat seperti pada tabel dibawah
Fase
|
Peran
guru
|
1.
Menyampaikan tujuan &
mempersiapkan siswa.
|
Guru
menjelaskan tujuan & kompetensi yang ingin dicapai, informasi latar
belakang, pelajaran, pentingnya pelajaran, dan mempersiapkan siswa untuk
belajar.
|
2.
Mendemonstrasikan pengetahuan atau
Keterampilan
|
Guru
mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap
demi tahap.
|
3.
Membimbing
pelatihan
|
Guru
merencanakan & memberi bimbingan
pelatihan awal.
|
4.
Mengecek
pemahaman dan memberikan umpan balik
|
Guru mencek
apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberikan umpan
balik.
|
5.
Memberikan
kesempatan untuk latihan lanjutan dan penerapan
|
Guru mempersiapkan
kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan
pada situasi yang lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
|
2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Inti dari pembelajaran berbasis masalah adalah
guru menghadapkan siswa pada situasi masalah kehidupan nyata (autentik) dan
bermakna, memfasilitasi siswa untuk memecahkannya melalui penyelidikan/ inkuari
dan kerjasama, memfasilitasi dialog dari berbagai segi, merangsang siswa untuk
menghasilkan karya pemecahan dan peragaan hasil. Tujuan yang dapat dikembangkan
melalui model pembelajaran ini adalah keterampilan berfikir dan pemecahan
masalah, kinerja dalam menghadapi situasi kehidupan nyata, membentuk pebelajar
yang otonom dan mandiri. Sintaks atau langkah-langkah pembelajaran meliputi 5
fase, dengan peran guru pada tiap fase dapat dilihat seperti pada tabel
Fase
|
Peran
guru
|
1.
Mengorientasikan
siswa pada masalah
|
Guru menjelaskan
tujuan/ kompetensi yang ingin dicapai, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi
siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih
|
2.
Mengorganisir
siswa untuk belajar
|
Guru membantu
siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut.
|
3.
Membimbing penyelidikan/inkuiri
individu maupun kelompok.
|
Guru mendorong
siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
|
4.
Mengembangkan
dan menyajikan hasil karya
|
Guru
membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, atau
model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
|
5.
Menganalis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
|
Guru membantu
siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan
proses-proses yang mereka gunakan.
|
4. Model Pembelajaran Koperatif
Inti model pembelajaran koperatif
adalah siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil, yang anggota-anggotanya
memeliki tingkat kemampuan yang berbeda (heterogen). Dalam memahami suatu bahan
pelajaran dan menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama
sampai seluruh anggota menguasai bahan pelajaran tersebut. Dalam variasinya
ditemui banyak tipe pendekatan pembelajaran koperatif misalnya STAD (Student
Teams Achievement Division), Jigsaw, Investigasi Kelompok, dan
Pendekatan Struktural, namun tidak
dikemukakan dalam materi diklat ini. Tujuan yang dapat dicapai
melalui model pembelajaran ini adalah hasil belajar akademik yakni penguasaan
konsep-konsep yang sulit, yang melalui kelompok koperatif lebih mudah dipahami
karena adanya tutor teman sebaya, yang mempunyai orientasi dan bahasa yang
sama. Disamping itu hasil belajar keterampilan sosial yang berupa keterampilan
koperatif (kerjasama dan kolaborasi)juga dapat dikembangkan melalui model
pembelajaran ini.
Fase
|
Peran
guru
|
1.
Menyampaikan tujuan dan memotivasi
siswa.
|
Guru
menyampaiakan tujuan/ kompetensi yang ingin dicapai, dan memotivasi siswa
untuk belajar.
|
2.
Menyajikan informasi
|
Guru
menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
|
3.
Mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompokkelompok belajar.
|
Guru
menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu
setiap kelompok agar melakukan transisis secara efisien.
|
4.
Membimbing kelompok bekerja dan
belajar.
|
Guru membimbing
kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
|
5.
Evaluasi
|
Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
|
6.
Memberikan penghargaan
|
Guru mencari
cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
|
4. Model pembelajaran group Investigation
Model pembelajaran kooperatif GI merupakan metode
pembelajaran dengan siswa belajar secara kelompok, kelompok belajar terbentuk
berdasarkan topik yang dipilih siswa. Pendekatan ini memerlukan norma dan
struktur yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru.
Dalam pembelajaran koo[eratif GI siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan anggota
2-6 orang siswa yang heterogen. Kelompok memilih topik untuk diselidiki dan melakukan
penyelidikan yang mendalam atas topic yang dipilih, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan
laporan di depan kelas.
Fase
satu: Menghadapi masalah, dalam fase ini siswa dihadapkan pada suatu
kondisi / peristiwa yang membuat siswa bertanya – bertanya.
Fase
kedua: Reaksi, dalam fase ini siswa
mendiskusikan dan menuliskan kemungkinan jawaban terhadap kejadian tersebut dalam kelompoknya.
Fase
ketiga: Formulasi, dalam fase ini siswa
menentukan apa yang harus dipelajari oleh masing – masing anggota kelompok,
peran setiap anggota kelompok.
Fase
keempat: Penyelidikan, difase ini siswa
secara kelompok melakukan penilitian untuk membuktikan kebenaran jawabannya.
Fase
lima: Analisis, dalam fase ini siswa -
siswa menganalisa dan melaporkan hasil penelitian.
Fase
enam: Pengulangan kegiatan, siswa
mengulangi kegiatan fase dua sampai lima jika menemukan persoalan / masalah
baru.
5.
Model pembelajaran berpikir induktif
Hilda Taba mengembangkan model pembelajaran
induktif melalui strategi belajar mengajar yang didesain untuk membangun proses
induktif serta membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam
mengkategorikan dan menangani informasi. Jadi, pada dasarnya model pembelajaran
ini dikembangkan berdasarkan cara berpikir induktif, yakni menarik kesimpulan
dari suatu masalah atau fenomena berdasarkan informasi atau data yang
diperoleh. Atas dasar cara berpikir induktif tersebut, model pembelajaran ini
menekankan pengalaman lapangan seperti mengamati gejala atau mencoba suatu
proses kemudian mengambil kesimpulan.
Dalam model pembelajaran induktif ini salah
satu ciri khasnya adalah dapat mengembangkan keterampilan berpikir. Sejumlah
pertanyaan disajikan pada siswa dimana pertanyaan-pertanyaan tersebut akan
menuntun siswa untuk menyelesaikan masalah mereka secara induktif.
Strategi
satu: Pembentukan konsep
·
Fase
satu: Siswa menyebutkan dan menyusun daftar dat
·
Fase
dua: Siswa mengelompokkan data
·
Fase
tiga: Siswa member nama dan mengkategorikan / klarifikasi data
Strategi dua: Interpretasi data
·
Fase
empat: Siswa mengidentifikasi hubungan antara data yang diperolehnya.
·
Fase
lima: Siswa menyelidiki bagaimana hubungan itu.
·
Fase
enam: Siswa membuat kesimpulan.
Strategi
tiga: Aplikasi konsep / prinsif
· Fase
tujuh: Siswa meramalkan konsekuensi, menjelaskan kejadian / fenomena yang tidak umum, berhipotesa.
· Fase
delapan: Siswa menjelaskan atau mendukung prediksi dan hipotesa yang telah dibuatnya.
· Fase
Sembilan: Siswa membuktikan prediksinya
6. Model pembelajaran Inquiry
Model pembelajaran inquiry adalah rangkaian kegiatan
pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk
mencari dan menemukan sendiri jawaban
dari suatu masalah yang dipertanyakan .Menurut piaget bahwa model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi
untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin
melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya
sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan
apa yang ditemukannya dengan yang
ditemukan siswa lain.
Fase satu: Menghadapi masalah
· Guru
memberikan masalah dan menerangkan langkah – langkah penyelidikan
· Guru
menyajikan fenomena yang memerlukan beberapa penjelasan / jawaban yang harus
dicari oleh siswa.
Fase
dua: Mengumpulkan data lewat verifikasi
· Siswa
mengumpulkan data –data yang berhubungan dengan fenomena yang terjadi.
· Siswa
menghubungkan data – data tersebut dengan apa yang pernah mereka lihat atau
alami
Fase ketiga: mengumpulkan data lewat eksperimen
· Siswa
mencari dan menentukan variabel – variabel yang berhubungan dengan fenomena yang disajikan melalui percobaan
· Melalui
percobaan, siswa berusaha membuktikan jawabannya / hipotesanya
Fase keempat: Mengolah data menformulasi penjelasan
· Siswa mengolah dan menganalisa data yang diperoleh nya dan membentuk suatu penjelasan
tentang fenomena atau masalah yanaag dialaminya di awal pembelajaran.
Fase lima: Analisa tentang proses penyidikan
· Siswa
mengemukakan kesulitan – kesulitan yang dialaminya selama melakukan penyelidikan dan mencari jalan keluar agar dapat melakukan kegiatan yang serupa
lebih baik lagi.
7. Model pembelajaran based learning
Model pembelajaran berbasis masalah
ini erat kaitannya dengan pendekatan kontekstual. Esensi dari pembelajaran
berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme
dan mengakomodasikan keterlibatan peserta didik dalam belajar serta terlibat
dalam pemecahan masalah yang kontekstual. Untuk memperoleh informasi dan
mengembangkan konsep-konsep sains, peserta didik belajar tentang bagaimana
membangun kerangka masalah, menyusun fakta, menganalisis data, dan menyusun
argumentasi terkait pemecahan masalah, kemudian memecahkan masalah, baik secara
individual maupun dalam kelompok.
Fase
satu: Pemberian masalah
· Siswa
mendapatkan masalah yang telah disusun oleh guru. Siswa tidak perlu mempunya
pengetahuan yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Hal ini berarti siswa
harus berkelompok untuk mencari / mempelajari informasi atau pengetahuan atau
keterampilan baru untuk terlibat dalam proses pemecahan masalah.
Fase kedua: Menuliskan apa yang diketahui
· Siswa
berkelompok menuliskan apa yang diketahui oleh mereka dari permasalah yang
diberikan oleh guru.
Fase ketiga: Menuliskan inti permasalahan
· Siswa
menuliskanb pernyataan tentang inti permasalahan / yang dipertanyakan dan harus
muncul dari siswa.
Fase keempat: Menuliskan cara pemecahan masalah
· Siswa
menuliskan beberapa cara untuk memecahkan masalah tersebut dan memutuskan mana
yang terbaik.
Fase kelima:
Menuliskan tindakan kerja apa yang akan dilakukan
· Siswa
menuliskan dan mengerjakan tindakan atau kerja yang mereka lakukan untuk memecahkan masalah tersebut.
Fase keenam:
Melaporkan hasil kegiatan
· Siswa
melaporkan hasil kegiatannya pada kelas yang meliputi proses yang dilakukan dan hasilnya
8. Model Pembelajarana Project Based
Learning Model (Model Pembelajaran Berbasis Proyek)
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based
Learning/PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan
proyek/kegiatan sebagai media (Daryanto, 2014) dan merupakan model pembelajaran
inovatif yang memfokuskan pada belajar kontekstual melalui kegitan yang
kompleks ( CORD dalam Sutirman, 2013).
Langkah-Langkah
Pembelajaran Berbasis Proyek
Menurut
Sani (2014) perencanaan PjBL harus mencakup empat langkah harus mencakup
langkah penting berikut ini:
1) Pengelompokkan siswa untuk
mengerjakan sebuah proyek
2) Mengajukan pertanyaan kompleks dan
mengarahkan untuk mengerjakannya
3) Membuat rancangan, jadwal
perencanaan penyelesaian proyek, serta mempersentasikan proyek
4) Memberikan umpan balik dan penilaian
atas proyek yang telah dibuat.
Selain
itu, menurut Sani (2014) penerapan pembelajaran berbasis proyek harus dimulai
dari perencanaan pembelajaran yang memadai, yakni dengan mengikuti tahapan
sebagai berikut;
1) Menentukan
materi proyek
2) Menentukan
tujuan proyek
3) Mengidentifikasi keterampilan dan pengetahuan awal
siswa yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek
4) Menentukan
kelompok belajar
5) Menentukan
jadwal pelaksanaan proyek
6) Mengevaluasi
sumber daya dan meterial yang akan digunakan
7) Menentukan
cara evaluasi yang akan digunakan.
9. Model
Pembelajaran Sains-Teknologi-Masyarakat (STM)
Model
pembelajaran STM merupakan salah satu model dalam pembelajaran Sains di
sekolah. Sasaran yang ingin dicapai melalui pendekatan STM adalah meningkatkan
minat siswa terhadap Sains serta membentuk pribadi siswa yang literasi sains
dan teknologi. Melalui model pembelajaran STM, para siswa sebagai warga
masyarakat diharapkan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan alam dan
sosialnya. Model pembelajaran STM merupakan “perekat” yang mempersatukan sains,
teknologi, dan masyarakat (Rustum Roy, 1983). Pengajaran Sains akan lebih
bermakna jika konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori Sains dikemas
dalam kerangka yang bertalian dengan teknologi dan masyarakat.
National
Science Teacher Assosiation (NSTA) di USA mendefinisikan STM sebagai “ the
teaching and learning of science in the contaxt of human experience
(Yager,1992). NSTA mengajukan sebelas ciri dalam mendeskripsikan pendekatan STM
dalam pembelajaran Sains, yaitu
- Siswa mengidentifikasi masalah-masalah sosial dan teknologi di daerahnya serta dampaknya.
- Menggunakan sumber lokal (manusia dan material) untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
- Keterlibatan siswa secara aktif dalam mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.
- Perluasan untuk terjadinya proses belajar yang melampaui waktu, kelas, dan sekolah.
- Memusatkan pengaruh sains dan teknologi kepada siswa.
- Pandangan bahwa materi subyek lebih dari sekedar konsep yang harus dikuasai siswa.
- Penekanan pada keterampilan proses yang dapat digunakan siswa dalam memecahkan masalah.
- Penekanan terhadap kesadaran karir, terutama karir yang berhubungan dengan sains dan teknologi.
- Memberi kesempatan kepada siswa untuk berperan sebagai warga masyarakat, jika telah dapat mengatasi isu yang telah diidentifikasinya.
- Identifikasi cara-cara yang memungkinkan sains dan teknologi memecahkan
Dari beberapa uraian yang dibuat dan telah
dibaca maupun ditulis, disini saya mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin
bisa dipecahkan bersama:
- Buat saudara/i yang sudah pernah mengalami proses mengajar disekolah, bagaimana langkah - langkah memilih sebuah model, strategi, dan pendekatan dalam sebuah pembelajaran Sains agar terwujud pembelajaran yang diharapkan. dan apakah semua model pembelajaran yang say tuliskan di atas sudah cukup dan tepat untuk diterapkan dalam pembelajran sains
- Pada mata pelajaran fisika dan biologi jika pembelajaran nya bersifat tidak bisa dilihat dengan mata atau disaksikan langsung oleh mata bagaimana langkah-langkah yang dilakukan agar pembelajaran tersebut tertanam konsepnya dengan baik pada siswa. Model pembelajaran, strategi, pendekatan seperti apa yang tepat digunakan.
- Didalam kurikulum 2013 ada beberapa model pembelajaran sains yang telah di tetapkan,menurut pandangan anda apakah model pembelajaran tersebut sudah tepat digunakan dalam mengajar sains.bagaimana cara saudara mengatasi agar guru mampu menerapkan model pembelajaran dengan baik ,
Pertanyaan nomor 1 dan 2 sepertinya bukan buat saya..
BalasHapusSaya coba menanggapi pertanyaan nomor 3. Didalam kurikulum 2013 ada beberapa model pembelajaran sains yang telah di tetapkan,menurut pandangan anda apakah model pembelajaran tersebut sudah tepat digunakan dalam mengajar sains. bagaimana cara saudara mengatasi agar guru mampu menerapkan model pembelajaran dengan baik ,
Sebagai guru tentu perlu memahami bagaimana model pembelajaran tersebut diterapkan, apa saja yang perlu dipersiapkan sebagai perangkat pembelajaran, serta media pembelajaran apa saja yang akan digunakan untuk menunjang proses pembelajaran,.
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan yang terakhir.
Kalau bagi saya itu sudah tepat karena di k13 dianjurkan menggunakan model diatas.
Sebagai seorang guru tentu ini menjadi tantangan untuk bisa menerapkan model tersebut dengan baik.kita harus menyesuaikan model dengan materi serta media yang akan kita gunakan .
Terima kasih
asaalamualaikum wr wb, terimakasih ulasan artikelnya.. sangat menarik..
BalasHapuskali ini saya sangat tertarik berdiskusi mengenai pertanyaan kedua penulis, terutama dalam bidang fisika. Pada mata pelajaran fisika dan biologi jika pembelajaran nya bersifat tidak bisa dilihat dengan mata bagaimana langkah-langkah yang dilakukan agar pembelajaran tersebut tertanam konsepnya dengan baik pada siswa. Model pembelajaran, strategi, pendekatan seperti apa yang tepat digunakan.
yang pertama jika materi yang kita ajarkan adalah materi yang berkaitan dengan hal yg tak bisa kita lihat dengan mata seperti atom, tekanan udara, tata surya dll, maka gunakanlah MEDIA PEMBELAJARAN yang bisa digunakan agar dapat tergambar oleh siswa konsep2nya, seperti gambar, vidio, atau perumpamaan dengan saranayang ada.
mengenai model seperti apa yang digunakan, pilihlah model-model yang sesuai dengan materi pembelajaran, sebenarnya model-model diatas bisa juga diterapkan, tinggal sesuaikan dengan materi.
Secara idealnya tentunya Model discovery learning dan inquiry learning, model problem based learning, dan Project Based Learning mampu menjawab kebutuhan pendidikan. Setiap model yang menjadi standar dalam melaksanakan pembelajaran, karena dilandasi dengan pendekatan ilmiah, maka selalu berawal siswa merumuskan masalah yang diungkapkan melalui proses menanya. Oleh karena itu, kebutuhan guru yang paling esensial dalam melaksanakan K13 adalah mampu membantu siswa merumuskan dan memecahkan masalah melalui berbagai langka kerja yang ditentukan.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Artikel yang menarik.
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan sdr.Arif no.2 yaitu: Pada mata pelajaran fisika dan biologi jika pembelajaran nya bersifat tidak bisa dilihat dengan mata atau disaksikan langsung oleh mata bagaimana langkah-langkah yang dilakukan agar pembelajaran tersebut tertanam konsepnya dengan baik pada siswa. Model pembelajaran, strategi, pendekatan seperti apa yang tepat digunakan.
Karena saya dari bidang fisika,saya akan menjawab dari sudut pandang saya. Jika ada materi/konsep yang susah dipahami karena tidak terlihat atau kita hanya bisa membayangkannya saja,misalnya materi fisika atom, hal ini bisa sedikit direalisasikan dengan menggunakan media pelajaran berupa simulasi. Saat ini,tekhnologi terus berkembang, tentu tidak akan sulit dalam mencari sumber-sumber yg dibutuhkan dalam KBM. Dalam menggunakan model pembelajaran,bisa saja guru menggunakan model problem based learning yg tentunya dengan menggunakan pendekatan berpusat pada siswa.
Terima kasih.
sharing untuk pertanyaan nomor 3 pak arif, untuk model yang bapak paparkan, model pembelajaran tersebut sudah tepat digunakan dalam mengajar sains. sedangkan agar guru mampu menerapkan model pembelajaran dengan baik maka guru tersebut harus menguasai langkah2 sintaks dari suatu model dengan baik dan benar terlebih dahulu. jika guru sendiri belum menguasai model tersebut maka ketika diterapkan tidak akan mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan, dan justru akan menimbulkan miskonsepsi terhadap siswa.
BalasHapusSaya akan menanggapi pertanyaan no.3
BalasHapusMenurut saya model pembelajaran khusus sains yang telah diuraikan pada artikel sudah tepat digunakan dalam pembelajaran sains. Mengenai cara guru agar lebih memahami adalah guru tersebut sebaiknya membuat perangkat mengajar seperti rpp yang dilengkapi dengan model sesuai dengan materi pelajaran sehingga pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Kemudian Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan dalam proses pembelajaran yang dijalaninya.
Assalamualaikum, saya akan menanggapi pertanyaan nomor 2, menurut saya pembelajaran fisika dan biologi tdk bisa dilihat oleh mata , itu yang saya tangkap bahwa ada suatu materi tdk bsa di lihat secara lansung melainkan menggunakan media, salah satu contoh mata pelajaran Sel, metode yang cocok adalah Eksperimen, dimana siswa praktikum melihat sel tumbuhan menggunakan mikroskop dengan menggunakan objek pengamatan yaitu bawang dan model pembelajaran yang bisa diterapkan adalah problem solving.
BalasHapusTerima Kasih, Wasalamualaikum
Assalamualikum, saya menanggapi pertanyaan no 3.
BalasHapusMenurut saya model pembelajaran yang telah anda jelaskan diatas sudah tepat untuk digunakan dalam pembelajaran sains.
Guru harus memiliki pengetahuan tentang bagaimana karakteristik masing masing model pembelajaran. maka seorang guru akan lebih mudah menetapkan model yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi.
Wassalamualikum, trimaksih
bagaimana langkah - langkah memilih sebuah model, strategi, dan pendekatan dalam sebuah pembelajaran Sains agar terwujud pembelajaran yang diharapkan. dan apakah semua model pembelajaran yang say tuliskan di atas sudah cukup dan tepat untuk diterapkan dalam pembelajran sains
BalasHapusLangkah apa yang harus kita lakukan agar dapat memilih model yang tepat dalam pembelajaran sains ?
1. anak didik
2. tujuan yang akan di capai
3. situasi belajar mengajar
4.fasilitas belajar mengajar
5. guru
ke 5 ini merupakan langkah-langkah yang harus diperhatikan terlebih dahulu sebelum menentukan model pembelajaran apa yang cocok digunakan dalam proses KBM.
dan semua model pembelajaran yang saudara tuliskan di atas sudah cukup tepat untuk diterapkan dalam pembelajran sains tinggal cara gurunya lagi menerapkan kedalam proses pembelajaran sains.
Assaamualaikum wr wb
BalasHapusmenanggapi pertanyaan no 3. menurut saya model pembelajaran sains yang telah di tetapkan, sudah tepat digunakan dalam mengajar sains karena model pembelajaran tersebut tahap demi tahap dirancang kegiatan pembelajarannya berpusat pada siswa sesuai dengan kurikulum 2013. Mengatasi agar guru mampu menerapkan model pembelajaran dengan baik , terlebih dahulu guru harus memahami dengan baik bagaimana langkah-langkah dari setiap model pembelajaran, karakteristik model-model pembelajaran, dan jika menemui kendala guru mau berdiskusi dengan rekan sejawatnya.
menanggapi pertanyaan nomor 3, model pembelajaran yg ditulis di atas semua sudah dapat digunakan dalam proses pembelajaran sains, karena menurut saya sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan kurikulum 2013. saya rasa setiap guru sudah mampu menerapkan model pembelajaran dengan baik.
BalasHapus