Model Pembelajaran Kontektual dan Model 

Pembelajaran Kolaboratif

        Sebelum melanjutkan ke model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran kolaboratif, maka terlebih dahulu para pendidik atau pengajar perlu memahami tentang definisi model pembelajaran sebagai pengetahuan awal.
Model pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan pembelajaran tertentu” (Hamzah. B Uno, 2008:02). Sehingga dapat di ambil kesimpulan bahwa model pembelajaran itu merupakan serangkaian cara yang dilaksanakan yang tersusun rapi sebagai langkah - langkah pedoman bagi guru dalam mengajar. Pada kali ini kita akan membahas tentang model pembalajaran Kontekstual dan Kolaboratif

1. Model Pembelajaran Kontektual
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), Membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nya sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, Memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dan suasana menjadi kondusif, nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
         
   Ada tujuh kompetensi model pembelajaran kontektual, antaral lain sebagai berikut :
  1. Konstruktivisme: Kompetensi konstruktivisme Memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan. Menurut pandangan konstruktivisme, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (a) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (b) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (c) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
  2. Inquiry ( Menemukan ): Dimana merupakan kompetensi dari Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman sehingga siswa akan belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis. Sehingga kompetensi inquiry merupakan bagian inti dalam model pembelajaran kontektual
  3. Questioning ( Bertanya ):Merupakan proses dimana Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry.
  4. Learning Community ( Masyarakat Belajar ): Merupakan Sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar, bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri, Tukar pengalaman dan berbagi ide. Dalam hal ini Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya.
  5. Modeling ( Pemodelan ): Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya.
  6. Reflection ( Refleksi ) : Merupakan Cara berpikir tentang apa yang telah di pelajari, Mencatat apa yang telah dipelajari, Membuat jurnal, karya seni, dan diskusi kelompok. Nilai hakiki dari komponen ini adalah semangat instropeksi untuk perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya.
  7. Authentic Assessment (Penilaian yang sebenarnya) : Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa , Penilaian produk (kinerja), Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.
Selaras dengan paparan tersebut, Depdiknas (2003: 4-8) mengemukakan bahwa pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut.
  • Belajar berbasis masalah (problem-based learning)
  • Pengajaran autentik (authentic instruction)
  • Belajar berbasis inkuiri (inquiry-based learning)
  • Belajar berbasis proyek (project-based learning)
  • Belajar berbasis kerja (work-based learning)
  • Belajar jasa layanan (service learning)
  • Belajar kooperatif (cooperative learning)
Dalam pembelajaran kontektual diharapkan siswa memiliki karakteristik – karakteristik sebagai berikut :
  • Kerjasama
  • Saling menunjang
  • Menyenangkan
  • Tidak membosankan
  • Belajar dengan bergairah
  • Pembelajaran terintegrasi
  • Menggunakan berbagai sumber
  • Siswa aktif
  • Sharing dengan teman
  • Siswa kritis, guru kreatif
  • Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dll
  • Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.


Langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh Trianto (2010: 111), yaitu:
  1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan bertanya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  4. Ciptakan masyarakat belajar.
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assesment) dengan berbagai cara.


Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual
Menurut Sanjaya (2006: 111) kelebihan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut:
  1. Menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran.
  2. Dalam pembelajaran kontekstual siswa belajar dalam kelompok, kerjasama, diskusi, saling menerima dan memberi.
  3. Berkaitan secara riil dengan dunia nyata.
  4. Kemampuan berdasarkan pengalaman
  5. Dalam pembelajaran kontekstual perilaku dibangun atas kesadaran sendiri.
  6. Pengetahuan siswa selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya.
  7. Pembelajaran dapat dilakukan dimana saja sesuai dengan kebutuhan.
  8. Pembelajaran kontekstual dapat diukur melalui beberapa cara, misalnya evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, observasi, rekaman, wawancara, dll.
Selanjutnya, kelemahan pendekatan kontekstual menurut Komalasari (2010: 15), yaitu sebagai berikut :
a. Jika guru tidak pandai mengaitkan materi pembelajaran dengan   kehidupan nyata siswa, maka pembelajaran akan menjadi monoton.
b.   jika guru tidak membimbing dan memberikan perhatian yang ekstra, siswa sulit     untuk melakukan kegiatan inkuiri, dan membangun pengetahuannya sendiri.

2. Model Pembelajaran Kolaboratif
      Suatu model pembelajaran yang prosesnya bagaimana cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi. Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesaikan secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar siswa. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai kesuksesan.

Selain itu, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
  1. Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
  2. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
  3. Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
  4. Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
  5. Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.
  6. Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
  7. Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
  8. Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
  9. Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
 Langkah – langkah pembelajaran kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.
  1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
  2. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis..
  3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
  4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
  5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
  6. Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
  7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
  8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
MACAM-MACAM PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:

  1. Learning Together
  1. Teams-Games-Tournament (TGT)
  1. Group Investigation (GI)
  1. Academic-Constructive Controversy (AC)
  1. Jigsaw Proscedure (JP)
  1. Student Team Achievement Divisions (STAD)
  1. Complex Instruction (CI)
  1. Team Accelerated Instruction (TAI)
  1. Cooperative Learning Stuctures (CLS)
  1. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta yang berpartisipasi dalam model pembelajaran kolaboratif adalah:
1.  Pembentukan kelompok
2.  Bekerja dalam satu kelompok
3.  Pemecahan masalah kelompok
4.  Manajemen perbedaan kelompok


KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

1. Kelebihan
  • Siswa belajar bermusyawarah
  • Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
  • Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
  • Dapat memupuk rasa kerja sama
  • Adanya persaingan yang sehat


2. Kelemahan
  • Pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
  • Membutuhkan waktu cukup banyak.
  • Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
  • Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.

Komentar

  1. 1. saya pernah mendengar pendekatan kontektual.yang ingin saya tanyakan apa yang membedakan pendekatan kontektual dengan model kontektual.
    2.model kontektual adalah model pembelajaran yang menghubungkan dengan alam nyata. apakah model ini cocok pada semua materi sains .dan apakah esensi alam nyata itu sebenarnya .dan pada jenjang apa yang paling tepat di terapkan
    3. di antara model pembelajaran kolaboratif dan kooperatif model mana kah yang cocok di gunakan dalam pembelajaran sains dan apakah ada perbedaan antara keduanya. dan strategi apa yang cocok di sanding agar terwujud nya pembelajaran sains yang diharapkan

    BalasHapus
  2. Assalamulaikum wr wb
    Sedikit pertanyaan untuk saudara Bpk Arif
    di sini ada poin
    1.Pembentukan kelompok
    2.Bekerja dalam satu kelompok
    3.Pemecahan masalah kelompok
    4.Manajemen perbedaan kelompok
    bisa saudara berikan contoh diantara poin 1dan 4.

    BalasHapus
  3. Misalnya jurusan membentuk suatu kelompok kemudian guru mengarah kan untuk bekerja sama dengan baik dalam kelompok.kemudian guru memberikan tugas atau permasalahan yg harus di selesaikan kleh kelompok yg merupakan tugas kelompok.dan didalam kelompok guru harus adil dalam membagi kelompok disetiap kelompok terdapat siswa yg pintar dan kurang pintar agar kelompok terjadi proses diskusi dengan baik dan pertukaran ide antara siswa

    BalasHapus
  4. salam pak arif, disini saya mencoba menelaah pertanyaan nomor dua tentang esensi "alam nyata" dalam pembelajaran kontekstual. menurut saya alam nyata yang dimaksud dalam model ini adalah bagaimana proses pembelajaran yang ada dikaitkan dengan “kehidupan sehari-hari” yang dialami oleh siswa secara lansung. Contohnya dalam pembelajaran pada materi sifat-sifat cermin kita dapat meminta siswa untuk mengamati cermin yang dilihatnya sehari-hari sehingga siswa bisa mendapatkan pengetahuan bahwa Cermin cembung tidak pernah membentuk bayangan terbalik. Semakin jauh jarak benda maka bayangan benda itu semakin kecil, begitu sebaliknya. Ini dapat ditemukan pada “Spion kendaraan” yang biasa dilihat siswa. Dan model pembelajaran ini cocok untuk semua jenjang pendidikan hanya saja disesuaikan untuk contoh materi dan praktikumnya dengan usia perkembangan pola pikir anak didik, semoga membantu

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum, terima kasih atas uraian yang telah diberikan. Pada model pembelajaran kolaboratif dan kooperatif memang memiliki kesamaan namun terdapat pula perbedaan. Salah satu conthnya adalah dalam kooperatif Guru merancang aktivitas-aktivitas terstruktur dan setiap siswa memiliki peran khusus sedangkan dalam kolaboratif Siswa mengatur dan menegosiasikan usahanya sendiri. Dalam model pembelajaran kolaoratif guru hanya sebagai pengarah dari kegiatan siswa. Menurut saya yang lebih cocok untuk pembelajaran sains adalah model pembelajaran kolaboratif yang penekanan kegiatan pembelajaran lebih ke siswa sehingga pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 dapat tercapai.

    BalasHapus
  6. Dalam model pembelajaran kolaboratif, adakah tips yang ingin anda berikan untuk meminimalkan kelemahan penerapan model tersebut?

    BalasHapus
  7. menurut pendapat saya esensi alam nyata dalam model pembelajaran kontekstual yaitu belajar diluar sekolah, siswa dituntut untuk bisa berinteraksi dengan lingkungan luar, semua jenjang sekolah bisa diterapkan asal guru bisa mengarahkan siswa dengan baik, dan semua materi bisa diterapkan dengan menggunakan model ini tergantung situasi dan kondisi belajarnya bagaimana.

    BalasHapus
  8. saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda nomr 3. tentu berbeda pembelajaran kolaboratif dan kooperatif. belajar kooperatif cenderung menggunakan metode kuantitatif yang melihat prestasi: yaitu, produk pembelajaran. pembelajaran kolaboratif membawa pendekatan yang lebih kualitatif, menganalisis percakapan setiap siswa dalam menelaah atau merespon suatu literatur.

    BalasHapus
  9. Asalamualaikum Wr Wb.
    Berdasarkan artilel diatas, Pada model pembelajaran kolaboratif tidak ada perbedaan tugas individu, melainkan tugas itu milik bersama dan diselesaikan secara bersama. Bagaimanakah evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap masing-masing siswa ?

    BalasHapus
  10. Menurut pendapat saya pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam pembelajaran sains karena akan terbentuk pembelajaran bermakna dan pembelajaran langsung dapat diterapkan dalam metode praktikum

    BalasHapus
  11. Terima kasih sdr arif atas ulasannya. Sy mencoba menjawab pertanyaan no 2 dmn model pembelajaran kontekstual cocok untuk semua materi sains karena berhubungan dengan alam nyata. Dan model pembelajaran kontekstual dapat diterapkan pada kurikulum apa saja.
    Terima kasih

    BalasHapus
  12. Terima kasih sdr arif atas ulasannya. Sy mencoba menjawab pertanyaan no 2 dmn model pembelajaran kontekstual cocok untuk semua materi sains karena berhubungan dengan alam nyata. Dan model pembelajaran kontekstual dapat diterapkan pada kurikulum apa saja.
    Terima kasih

    BalasHapus

Posting Komentar